Wajah
Glowing bahaya Loooh….!
Pernahkah
anda memperhatikan komposisi kosmetik anda?
Pernahkah
kalian berpikir kenapa wajah sista bisa glowing?
Senyawa
apa sih yang terkandung dalam kosmetik tersebut dan amankah?
Sering kita temui Sista-sista memiliki kulit wajah yang
mengkilap (Glowing). Sista protes ngak kalau aku bilang sista sedang pakai
kosmetik yang mengandung bahan berbahaya. Jangan marah dulu ya. silahkan deh
ambil 3-5 produk kecantikan sista baik itu krim wajah ataupun lotion pemutih
badan. Perhatikan deh komposisi bahannya, maka salah satunya dipastikan mengandung
titanium dioxida (TiO2). Nah, apasih titanium dioxida (TiO2)
kok digunakan dalam industri kosmetik?
Apasih Titanium Dioksida (TiO2) itu?
Titanium Dioxide (TiO2) adalah mineral
alami yang ditambang dari bumi kemudian diproses lebih lanjut dan dimurnikan
untuk digunakan dalam produk konsumen. Juga dikenal sebagai titanium (IV)
oksida atau titania, itu adalah senyawa alami yang terdiri dari logam titanium
dan oksigen. Titanium dioksida aman digunakan di banyak produk mulai dari cat
dan makanan hingga obat-obatan dan kosmetik. Titanium Dioxide Ini juga merupakan
salah satu pigmen pemutih. Senyawa ini digunakan untuk memutihkan kertas, namun
sekarang banyak kita temui di beberapa produk makanan atau kosmetik menggunakan
TiO2 ini sebagai bahan dasar pemutih dan juga memainkan peran penting dalam
beberapa produk tabir surya sebagai cara untuk melindungi kulit dari radiasi
ultraviolet yang berbahaya dari matahari.
“Loh kok pemutih
kertas dipakai untuk wajah apakah aman?”
Pasti setelah
membaca paragraph diatas akan timbul pertanyaan seperti ini “Loh
kok pemutih kertas dipakek untuk wajah apakah aman?”. Asal sista tau aja fungsi Titanium Dioksida pada kosmetik
pada dasarnya adalah sebagai tabir surya (UV Protection) karena
memang merupakan bahan tabir surya alami. Mineral ini membantu memberikan efek
wajah yang lebih bersinar karena daya pantul cahayanya lebih tinggi dibanding
berlian. Nah sista-sita yang kulit wajahnya mengkilat (glowing) itu dikarena
TiO2 ini. Walaupun ini zat kimia, tapi
proses terbentuknya zat ini terjadi secara alami (bukan buatan). Mineral ini juga membantu menyamarkan noda di
kulit dan dapat menyejukkan kulit yang teriritasi.
Untuk yang suka
nyari-nyari SPF dengan angka besar, harus
kenalan lho dengan TiO2.
Sebab, TiO2 inilah yang akan menentukan seberapa
besar SPF yang tercantum dalam suatu produk tabir surya. Semakin tinggi
persentase TiO2, maka semakin besar juga angka SPF nya. TiO2 sebagai tabir surya memiliki kemampuan absorbing sinar UV yang kuat dan memiliki indeks
refraksi yang tinggi. Dengan kemampuan seperti itu, TiO2 bisa memantulkan
kembali Sinar UVA dan UVB sekaligus.
Cara kerja TiO2 tidak seperti
Mercury yang terdapat pada krim pemutih abal-abal yang bisa memutihkan kulit
lebih putih dari kulit asli. Cara kerja dari krim pemutih atau sunblock yang
mengandung TiO2 adalah sinar UV akan bereaksi zat tersebut yang berfungsi sebagai katalis
sebelum bereaksi dengan kulit kita sehingga kulit kita akan terlindungi. Jadi, jangan
berharap lebih putih ya, kalau pakai krim
pemutih yang mengandung TiO2 jika hasilnya dibandingkan dengan pemutih yang
mengandung merkuri.
Lantas
Amankah Kosmetik Dengan Kandungan Mineral TiO2?
Menurut
beberapa penelitian, Titannium Dioxida ini berbahaya untuk kesehatan organ
tubuh manusia. Namun mengapa pada produk kecantikan masih menggunakan Titanium
Dioxide?
Produk yang dimaksud adalah
produk yang telah mendapatkan izin resmi dari BPOM, karena kadar maksimal TiO2
yang digunakan masih dalam kadar aman untuk kesehatan. WHO (World Health Organization) sendiri memang melegalkan penggunaan
bahan ini ke dalam kosmetik bahkan untuk obat dan makanan juga. Kalau sudah
berbicara tentang WHO sih, ini artinya berdasarkan riset-riset tertentu oleh
para ahli. Sama seperti bahan apapun, Titanium Dioxide tidak membahayakan jika
kadarnya tepat. The American Cancer Society memang memasukannya dalam daftar
bahan Karsinogenik tapi itu tidak relevan untuk yang terdapat pada kosmetik,
karena bentuknya sendiri sudah bukan bubuk. Kalau bentuknya bubuk memang kemungkinan
zat ini cepat terserap ke dalam tubuh.
IARC memang
menggolongkan TiO2 sebagai zat karsonogen (pencetus kanker) bila dalam
bentuk serbuk (debu TiO2). Hal itu dicetuskan setelah ditemukan kanker saluran
napas pada tikus2 yang hidup di area produksi TiO2. Tapi hal tersebut belum
tentu relevan dengan manusia yang sama2 terpapar dengan debu TiO2, jadi hal
tersebut masih pro-kontra.
Perlu kita diketahui tentang
penggunaan TiO2 pada sunblock atau pemutih
jika di kulit kita terdapat kandungan air, misalnya pada saat kita berenang.
Karena dengan kehadiran air (H2O) maka akan terjadi reaksi pembentukan hidroxyl
bebas OH dengan kata lain radikal bebas. Memang pembentukan radikal bebas
tersebut hanya dalam hitungan per milidetik dan sifatnya sangat reaktif dan
tidak stabil, sehingga mudah bereaksi kembali untuk membentuk molekul air.
Namun dengan ukuran waktu se per milidetik tersebut, jika radikal bebas
tersebut sempat bereaksi dengan kulit kita apakah yang akan terjadi? Radikal
bebas OH jika bereaksi dengan sel organisme akan menghancurkan sel organisme
dimana terjadi dekomposisi sel menjadi H2O(air) dan CO2 (Karbon Dioksida)
sehingga memungkinkan terjadinya kanker. Sehingga, bila TiO2 bila digunakan sebagai sunblock maka harus dilapisi
dengan silica atau alumina. Karena TiO2
yang 'telanjang' dapat membentuk suatu radikal bebas yang bisa mencetuskan
kanker. Maka dari itu, kita sering menemukan 'silica' dalam ingredient
sunblock/sunscreen kita.
Selanjutnya, untuk
keamanan yang lebih, dianjurkan untuk menghindari produk kecantikan yang mengandung TiO2
yang ada embel-embel Nanopartikel-nya karena itu kan artinya ukuran partikel
yang sangat kecil, sehingga mudah terserap tubuh. Titanium
dioksida (TiO2) nanopartikel
inilah
menyebabkan kerusakan genetik sistemik pada tikus, menurut studi komprehensif
yang dilakukan oleh para peneliti di UCLA Jonsson Comprehensive Cancer Center.
Nanopartikel TiO2 diinduksi
tunggal dan double-untai DNA istirahat dan juga menyebabkan kerusakan kromosom
serta peradangan, semua yang meningkatkan risiko untuk kanker. Penelitian UCLA
adalah yang pertama untuk menunjukkan bahwa nanopartikel memiliki efek seperti
itu, kata Robert Schiest, seorang profesor patologi, onkologi radiasi dan ilmu
kesehatan lingkungan, sebuah Jonsson Cancer Center ilmuwan dan penulis senior
studi tersebut.
Setelah di sistem, nanopartikel TiO2
menumpuk di organ berbeda karena tubuh tidak memiliki cara untuk
menghilangkannya. Dan karena mereka begitu kecil, mereka bisa pergi mana-mana
di tubuh, bahkan melalui sel-sel, dan dapat mengganggu mekanisme sub-seluler Studi
ini muncul minggu ini dalam jurnal Cancer
Research.
Di masa lalu, ini nanopartikel TiO2
telah dianggap tidak beracun dalam bahwa mereka tidak menghasut reaksi kimia.
Sebaliknya, permukaan interaksi bahwa nanopartikel telah di lingkungan mereka dalam
hal ini di dalam tikus yang menyebabkan kerusakan genetik, Schiest kata. Mereka
mengembara ke seluruh tubuh menyebabkan stres oksidatif, yang dapat menyebabkan
kematian sel.
Ini adalah mekanisme baru
toksisitas, reaksi fisikokimia, menyebabkan partikel-partikel ini dibandingkan
dengan racun kimia biasa, yang merupakan subjek penelitian toksikologi biasa,
Schiest kata.
Jadi
untuk sista-sista yang wajahnya glowing-glowing seperti kaca ea… hati-hati ya..
dilihat lagi komposisinya, jika mengandung TiO2 tanpa mengandung silica atau
alumina sebaiknya hati-hati dengan air.. karna akan menghasilkan radikal bebas
yang berbahaya bagi kulit… begitu juga yang ada embel-embel nanopartikel
sista-sista harus lebih hari-hati nih karna akan meningkatkan
risiko kanker.
Sekian
dulu ya sista dari kami.. semoga bermanfaat.. bay bay..
Oleh: Vivi
Septya Wati (16630061)
Vina
Siti Hardiyanti F. (16630076)
Referensi:
Su,
Cherng-Yuh, Hong-Zheng Tang, Kent Chu, and Chung-Kwei Lin. “Cosmetic Properties
of TiO2/Mica-BN Composite Powder Prepared by Spray Drying.” Ceramics
International 40, no. 5 (June 2014): 6903–11. https://doi.org/10.1016/j.ceramint.2013.12.011.
Sari,
Laila. 2012. Pengaruh Nanopartikel Titanium Dioksida Pada Resin Sebagai
Material Transparan Anti Uv Dan Self
Cleaning Material.
SKRIPSI Universitas Andalas.
Rahmi, Dwinna. 2010. Lemak Padat Nanopartikel; Sintesis Dan
Aplikasi. Jurnal Kimia dan Kemasan. Vol. 32 No.1 :
27-33



Tidak ada komentar:
Posting Komentar